Table of Content
Siapa sangka sebuah langkah kecil bisa membuka jalan bagi capaian besar?
Itulah yang dialami Yasmin Azzahra Rahman, seorang gadis dengan cerebral palsy. Sejak lahir, Yasmin harus berjuang dengan keterbatasan gerak dan bicara. Ia menggunakan kursi roda untuk beraktivitas, dan sering kali orang meragukan kemampuannya untuk belajar dan berprestasi.
Namun, di balik keterbatasan fisik itu, Yasmin punya semangat yang luar biasa. Saat tinggal di Belanda, ia sempat menunggu lama untuk bisa diterima sekolah. Dalam masa penantian itu, sang kakek memberi saran sederhana: “Cobalah menulis buku harian.”
Inspirasi : Cinta, Harapan, dan Semangat: Inspirasi dari Anak Berkebutuhan Khusus
Awalnya hanya coretan kecil berisi cerita sehari-hari. Namun siapa sangka, kebiasaan itu berkembang menjadi karya nyata. Buku pertamanya, My Story in Holland, berhasil diterbitkan dan membuka mata banyak orang bahwa anak berkebutuhan khusus juga bisa berkarya besar.
Tak berhenti di situ, Yasmin menulis buku-buku berikutnya, hingga akhirnya ia diangkat menjadi Duta Literasi Anak Berkebutuhan Khusus. Dari kursi roda, Yasmin justru menginspirasi banyak anak dan keluarga di Indonesia.
Makna dari Kisah Yasmin Menurut Ahli
Menurut Dr. Temple Grandin, seorang profesor dan penulis dengan autisme yang dikenal dunia, “Setiap anak istimewa memiliki cara unik untuk belajar dan mengekspresikan diri. Tugas kita adalah menemukan pintu masuk yang sesuai.”
Apa yang dialami Yasmin membuktikan hal ini: menulis menjadi pintu masuk bagi dirinya untuk berkembang.
Ahli pendidikan khusus, Prof. Lani Florian (University of Edinburgh), juga menekankan pentingnya inklusi dalam pendidikan: “Pendidikan inklusif bukan sekadar memasukkan anak berkebutuhan khusus ke sekolah umum, tetapi memberi ruang agar mereka bisa menunjukkan potensinya.”
Yasmin diberi ruang itu—bukan di kelas, melainkan di tulisan—dan hasilnya melampaui harapan.




