Table of Content
Tasikmalaya – Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Tasikmalaya menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan pendidikan berkualitas dan bermakna bagi peserta didik berkebutuhan khusus. Langkah strategis ini diwujudkan melalui pelaksanaan Workshop Implementasi Pembelajaran Mendalam (PM) yang diikuti oleh seluruh guru SLBN Tasikmalaya.
Kegiatan ini merupakan bagian integral dari upaya sekolah dalam mengadaptasi metode pembelajaran inovatif, sejalan dengan visi menciptakan lingkungan belajar yang transformatif dan menghasilkan lulusan yang kompeten serta berkarakter.
Fokus Utama: Mengubah Paradigma dan Praktik Mengajar
Workshop ini dirancang secara komprehensif, bertujuan membekali para pendidik dengan pemahaman dan keterampilan praktis untuk menerapkan kerangka Pembelajaran Mendalam di kelas. Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) dikenal sebagai pendekatan yang fokus pada pemahaman konsep secara mendalam, menumbuhkan kompetensi global (karakter, kolaborasi, komunikasi, kreativitas, berpikir kritis), dan mengintegrasikannya dalam konteks kehidupan nyata.
Baca Juga : Perayaan Hari Disabilitas Internasional di SLBN Tasikmalaya: Meriah dengan Pentas Seni & Market Day
Adapun materi utama yang menjadi fokus pembahasan dalam workshop ini meliputi:
- 1. Pola Pikir Tetap dan Bertumbuh: Mengubah mindset guru dari pola pikir tetap (fixed mindset) menuju pola pikir bertumbuh (growth mindset), yang esensial dalam memandang potensi setiap siswa, terutama bagi peserta didik berkebutuhan khusus.
- 2. Konsep dan Kerangka Kerja Pembelajaran Mendalam: Memahami pilar-pilar utama dan kerangka kerja (6C) PM agar implementasinya berjalan sistematis dan terukur.
- 3. Prinsip dan Pengalaman Belajar PM: Menganalisis bagaimana menciptakan pengalaman belajar yang otentik, menantang, dan relevan bagi siswa SLBN Tasikmalaya.
- 4. Asesmen Pembelajaran Mendalam: Mengembangkan instrumen asesmen yang tidak hanya mengukur pengetahuan, tetapi juga kompetensi mendalam dan karakter siswa.
- 5. Perencanaan Pembelajaran (RPP Mendalam): Praktik langsung merancang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang mengintegrasikan prinsip-prinsip PM, menyesuaikan kebutuhan spesifik Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).
- 6. Implementasi Refleksi PM: Menguatkan budaya refleksi di antara guru untuk terus mengevaluasi dan meningkatkan efektivitas praktik PM di kelas.





